Legenda tim InstaSpot!
Legenda! Anda pikir legenda adalah retorika yang bombastis? Lalu, bagaimana menyebut seorang pria, seorang Asia pertama yang memenangkan kejuaraan catur dunia junior pada usia 18 tahun, dan yang menjadi Grandmaster India pertama pada usia 19 tahun? Itulah awal perjalanan yang sulit dalam meraih gelar Juara Dunia bagi Viswanathan Anand, pria yang menjadi bagian dari sejarah catur untuk selamanya. Sekarang, satu lagi legenda masuk ke dalam tim InstaSpot!
Borussia merupakan salah satu klub sepakbola paling terkenal di Jerman, yang telah berulang kali membuktikan pada para penggemarnya: semangat kompetisi dan kepemimpinan pasti akan mengarah pada kesuksesan. Lakukan trading dengan cara yang sama seperti para profesional olahraga: percaya diri dan aktif. Gunakan "kunci" dari Borussia FC dan jadilah yang terdepan bersama InstaSpot!
Per pertengahan April 2026, pasar emas masih berada dekat rekor tertingginya: para trader dan investor terus menilai dampak konfrontasi AS–Iran terhadap energi, inflasi, dan nilai tukar dolar. Dalam konteks ini, para analis UBS meningkatkan optimisme mereka terhadap logam mulia tersebut, dengan mengaitkan potensi kenaikan lanjutan pada berlanjutnya ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi jalur suku bunga yang lebih longgar.
Dalam laporan analisis terbaru, para analis komoditas UBS Giovanni Staunovo menegaskan kembali proyeksinya. Menurut bank tersebut, pada akhir 2026 harga emas mungkin berada di kisaran 5.900–6.200 dolar AS per ounce, yang berarti kenaikan sekitar 20% dari level saat ini.
Pada Rabu, emas diperdagangkan di sekitar 4.839 dolar AS per ounce setelah sempat naik hingga level tertinggi bulanan di 4.895 dolar AS; namun, harga kemudian terkoreksi. Hal ini disebabkan oleh gelombang baru minat pada aset berisiko dan antisipasi kemungkinan dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran.
UBS secara khusus menyatakan bahwa pergerakan harga sejak dimulainya operasi militer AS–Iran pada 28 Februari kurang kuat dibandingkan yang diantisipasi: emas belum mampu menembus level resistance di 5.200 dolar AS secara meyakinkan. Sebagai perbandingan, bank tersebut mengingatkan skenario tahun lalu, ketika kenaikannya mencapai 65%.
Meskipun minat terhadap lindung nilai masih ada, UBS menilai kenaikan harga minyak sebagai faktor pembatas. Harga minyak yang tinggi memperburuk kekhawatiran inflasi dan menopang dolar, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Pada saat yang sama, bank tersebut menekankan bahwa emas tidak hanya bereaksi terhadap eskalasi langsung di medan perang, tetapi terutama terhadap konsekuensi ekonomi yang lebih luas dari konflik tersebut—depresiasi mata uang, defisit anggaran, dan perlambatan pertumbuhan.
Suku bunga acuan menjadi titik fokus dalam proyeksi UBS, dengan prediksi akan ada dua kali pemangkasan masing-masing 25 basis poin hingga September. Menurut logika UBS, hal ini akan melemahkan dolar dan menurunkan imbal hasil riil, sehingga menciptakan "angin penopang" bagi emas.
Optimisme UBS sejalan dengan langkah pelaku besar lainnya. Bank swasta HSBC melaporkan tengah merestrukturisasi portofolionya, secara khusus mengurangi porsi saham India dan meningkatkan investasi pada emas, kas, dan hedge fund. Alasan di balik keputusan ini mencakup risiko terkait perang di Iran dan harga minyak yang tinggi (menurut Bloomberg).
Patrick Ho, Chief Investment Officer untuk Asia Utara di HSBC Private Banking, menyebut India sebagai pasar berkembang yang "paling rentan" di Asia karena sensitivitasnya terhadap biaya energi.
Sebelumnya, divisi riset HSBC memperkirakan harga emas akan naik hingga $5.000 per ounce pada paruh pertama 2026, berdasarkan risiko geopolitik dan kekhawatiran mengenai utang pemerintah. Namun, bank tersebut memperingatkan kemungkinan terjadinya koreksi pada paruh kedua tahun itu jika ketegangan mulai mereda.
Sentimen pasar terus dibentuk oleh rapuhnya dinamika hubungan antara AS dan Iran. Setelah perbincangan damai pada 12 April mengalami kebuntuan, dolar menguat, dan harga minyak naik menembus $100 per barel—di tengah persiapan Angkatan Laut AS untuk kemungkinan blokade Selat Hormuz. Pada hari yang sama, harga spot emas turun ke sekitar $4.717 per ounce, level terendah sejak 7 April. Penurunan ini sebagai respons terhadap berita terkait diplomasi menegaskan seberapa cepat para trader bereaksi terhadap perubahan lanskap berita.
Giovanni Staunovo menyatakan bahwa ketegangan yang terus berlanjut terkait Iran dan risiko di Selat Hormuz memberikan tekanan naik pada harga dan meningkatkan volatilitas di pasar komoditas, khususnya pasar minyak. Bahkan penyelesaian yang mungkin menyusul, menurut UBS, tidak akan menghilangkan alasan fundamental bagi kenaikan harga emas.
Bagi para trader dalam beberapa minggu ke depan, faktor utama yang diperkirakan akan berperan mencakup: dinamika dolar dan imbal hasil riil (menjelang keputusan The Fed), pergerakan pasar minyak (sebagai indikator risiko inflasi), serta kecepatan perubahan dalam agenda geopolitik seputar Iran dan Selat Hormuz. Dalam kondisi ini, kisaran proyeksi UBS ($5.900–$6.200 pada akhir 2026) tetap menjadi acuan utama bagi strategi trading emas.
Tinjauan analitis InstaSpot akan membuat Anda menyadari sepenuhnya tren pasar! Sebagai klien InstaSpot, Anda dilengkapi dengan sejumlah besar layanan gratis untuk trading yang efisien.